Kamis, 09 Juni 2016

Perbandingan Setiap Genre Film Indonesia dan Hollywood (PART 1)

Film atau drama serial adalah salah satu hiburan yang paling banyak diminati oleh kaum manusia, baik dari kalangan muda, anak-anak, bahkan hingga orang tua. Di dalam grafik visual ini, kita dapat melihat gambaran kehidupan yang mengandung unsur-unsur cerita baru yang fiktif maupun non-fiktif. Tidak hanya dari produksi Hollywood, Indonesia pun mampu membuktikan daya saing dengan perfilman dunia.

Namun pertanyaannya adalah: Apakah film-film di Indonesia berasal dari unsur-unsur Indonesia asli? Kita akan membahas perbandingan perfilman Indonesia dengan film-film yang telah ada sebelumnya melalui beberapa aliran (genre).


Gambar 1. Perbandingan cover film Indonesia dan Hollywood

Romance


Gambar 2. Salah satu film romance terbaik dari Hollywood

Bukan tanpa alasan genre ini disebutkan paling pertama, karena bukan sesuatu yang sulit disadari lagi bahwa Indonesia mengutamakan genre Romance dalam kriteria film maupun novel. Barangkali dilatarbelakangi dengan sifat orang-orang Indonesia yang lemah lembut dan sendu, sehingga “Bukan film Indonesia namanya kalau nggak ada cinta-cintaan.”

Sebenarnya, pengertian dari roman ini sendiri tidak hanya berpusat pada percintaan remaja atau dewasa muda, melainkan juga dalam suasana rumah tangga dan kasih sayang saudara yang luar biasa. Namun lain halnya di Indonesia, yang hanya mengartikan Romance sebagai percintaan hubungan kekasih.

Dalam novel “A Tree Grows in Brooklyn” terdapat kisah sebuah keluarga Nolan yang miskin dan penuh lika-liku kehidupan dengan seorang bibi yang genit dan tetangga yang tidak ramah. Novel ini menceritakan seorang gadis bernama Frances yang berjuang dalam hidup bersama ayah kesayangannya. Menurut saya, suasana haru yang tercipta di novel ini terasa tidak dibuat-buat walaupun buatan.

Sementara itu, film-film roman di negara ini selalu mengambil suasana sedih ketika seorang kekasih pergi ke luar negeri, atau meninggal, atau terlibat percintaan terlarang. Tidak hanya itu, terutama dalam film dan SINETRON remaja, biasanya tidak ada fokus lainnya di dunia itu selain “Cintaku padamu”. Orangtua selalu menuruti keinginan anak-anak remajanya, tidak ada kegiatan belajar kehidupan sekolah, serta hal-hal janggal lainnya yang telah ditayangkan BERULANG-ULANG. Kalaupun film roman mengambil latar kehidupan rumah tangga, jalan cerita serta tragedinya hanya muncul dari sang antagonis yang menyiksa protagonis.

Comedy

Yang kedua, genre komedi. Dalam genre ini para penonton sangat menginginkan hiburan yang dapat menghapus rasa stress. Tidak hanya sekedar lucu, komedi harus punya tingkat edukasi dan selera humor yang tinggi – agar penonton tidak merasa bosan. Namun kenyataannya, film komedi Indonesia (terutama di layar kaca televisi) terlalu banyak menggunakan adegan-adegan komedi yang KLISE. Selain itu, komedi cross-genre paling banyak di Indonesia adalah: komedi-drama dan komedi-18++.

Kita bisa membandingkan dengan film komedi-aksi, komedi-fantasi, dan komedi-dewasa seperti 21 Jump Street, Rush Hour, Jumanji, Are We Officially Dating?, dsb. yang tidak berkutat dengan tema-tema cerita yang sudah ada, namun tetap menyegarkan hati.

Sementara film komedi Indonesia hampir sebagian besar mengambil latar pedesaan dan mengambil kelucuan di setiap sifat tokoh “katro” atau etnosentris-nya. Bukan sesuatu yang salah dengan ini, bahkan sebenarnya inilah yang menciptakan orisinalitas Indonesia. Namun permasalahannya adalah: Bukankah sesuatu yang dikembangkan akan menjadi sesuatu yang lebih baik?

Di samping itu, ada terobosan film komedi baru yang dimainkan oleh para komik Stand Up Comedy Indonesia. Film ini menggunakan cross-genre komedi-aksi yang tidak sekedar lucu, melainkan mengasah keingintahuan apakah yang sebenarnya terjadi dengan orang-orang sakit jiwa di film itu. Film Comic 8 mengangkat kisah pada agen rahasia untuk menguak kejahatan seorang pengelola rumah sakit jiwa. Bukankah unsur ini sudah pernah ada di film-film Hollywood, dan telah menghilangkan sifat orisinal film ini? Mengapa Indonesia tidak menciptakan “tren” film komedi sendiri? Bagaimana dengan menciptakan “tren” film komedi-tragedi atau komedi-horror? Kenapa harus takut?

Oleh: Giovani Malinda

Sumber gambar:
1. http://cdn.klimg.com/muvila.com/resources/photonews/2015/07/15/9901/520xauto-poster-film-indonesia-yang-mirip-film-hollywood-150715o-55a60d0c84dca-rev1.jpg 2. http://4.bp.blogspot.com/-AZpquddL2UQ/UDnI_gCwpQI/AAAAAAAAALw/YBakZ8zpS1o/s1600/Top+Romantic+Movies+of+All+Time.jpg


Related Posts :