Jumat, 10 Juni 2016

Perbandingan Setiap Genre Film Indonesia dan Hollywood (PART 2) - Habis

Cartoon / Animation

Tidak dapat dipungkiri, negara Indonesia memang sempat tertinggal era teknologi beberapa dekade lalu, sehingga tidak heran peristiwa ini berimbas ke dalam film-film Indonesia. Kartun pertama yang dibuat baru keluar beberapa tahun yang lalu. Berbeda dengan “tren” tema perfilman, cartoon dikategorikan sebagai “genre”. Jadi, bukan masalah apabila negara Indonesia ketinggalan dan berusaha membuat film kartun – tidak ada masalah orisinalitas atau membajak ide cerita. Namun permasalahannya, ternyata kartun di Indonesia juga meniru “tema” film di luar negeri.

Kartun Upin & Ipin menceritakan keadaan kehidupan anak-anak di pedesaan Malaysia, dengan menanamkan nilai-nilai moral serta komedi membuat kartun ini diminati banyak kalangan, terutama anak-anak. Bahkan kartun Upin & Ipin menjadi salah satu film favorit di Disney Asia Channel. Bukankah itu mengagumkan?


Gambar 3. Animasi Indonesia yang tidak kalah hebat

Kita kembali kepada kartun di Indonesia, yang biasanya dimulai dari home production, setelah terbangnya film kartun dua anak kembar dari Malaysia tersebut tiba-tiba bermunculan film kartun di Indonesia dengan “tren” sama: kehidupan anak-anak di pedesaan.

Namun meskipun banyak film-film kartun Indonesia yang benar-benar menyalin tema (atau bahkan ide) serta sifat-sifat tokoh sama persis dengan kartun Malaysia, bukan tidak mungkin bahwa ternyata ada juga kartun yang bermutu buatan Indonesia. Seperti Battle of Surabaya dan Adit & Sopo-Jarwo, saya memberikan apresiasi lebih karena meskipun mereka mengikuti “tren”, tapi kartun-kartun ini mampu menghasilkan ide dan beberapa adegan baru.

Action

Genre yang terakhir ini masih terbilang asing bagi dunia perfilman Indonesia. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, negara Indonesia sempat tertinggal kecanggihan teknologi yang menyulitkan penggunaan efek animasi dalam filmnya. Kini, tinggal masalah isi film action yang ditayangkan di layar lebar.

Begitu banyak film aksi di luar negeri yang bertema perang, mafia, aksi tembak, agen rahasia, superhero, dan baru-baru ini “tren” film di dunia adalah “teenagers-who-survived-the-end-of-the-world”. Film action di Indonesia masih berada di level kedua hingga keempat: aksi tembak, agen rahasia, dan superhero. Tidak ada yang salah ketika kita mengikuti tren, yang menjadi masalah adalah ketika kita terus-menerus mengikuti tren. Film aksi di Indonesia yang baru muncul ini sebenarnya punya kualitas yang bagus. Kualitas ini datang dari sudut pandang orang-orang Indonesia. Tapi bagaimana dengan mata dunia? Bukankah bagi dunia tema-tema film ini sudah terlalu biasa?

Pada akhir kata, sudah saatnya Indonesia kreatif tersalur melalui jalur perfilman. Semakin hari, semakin banyak ide baru di dunia ini yang mendahului kita. Pikiran itu abstrak, dan gunakanlah itu! Karena sebenarnya ke-abstrak-an itu sengaja diciptakan dengan banyak tujuan. Hanya saja, Indonesia bukanlah salah satu negara yang mampu memanfaatkannya.

Oleh: Giovani Malinda

Sumber gambar:
1.
http://1.bp.blogspot.com/-M5Rx36tLx58/UyqiF42JgPI/AAAAAAAAA7M/8KsGbMXyytg/s1600/Adit-dan-Sopo-Jarwo-padikomputer.jpg


Related Posts :