Kamis, 21 Juli 2016

Mengenal Dan Menghadapi Globalisasi

Saat ini, hampir seluruh negara terlanda arus globalisasi. Termasuk juga Indonesia. Lalu, bagaimana sebaiknya kita menghadapi globalisasi? Dan juga, apakah globalisasi akan menghasilkan dampak baik ataukah mengakibatkan dampak buruk? Sebelum membahas bagaimana sebaiknya menghadapi globalisasi serta apa dampaknya, marilah kita memahami apa itu sebenarnya globalisasi.

Dalam bukunya berjudul Globalization: A Critical Introduction, Robert Jan Art menyebutkan terdapat lima aspek globalisasi yaitu westernisasi, liberalisasi, internasionalisasi, de-teritorialiasi, dan universalisasi. Nah, seperti apa masing-masing aspek tersebut? Serta, bagaimana kita sebaiknya menghadapi masing-masing aspek globalisasi tersebut?

Globalisasi Sebagai Westernisasi

Secara konseptual, westernisasi yaitu proses masuknya nilai-nilai budaya barat ke dalam kehidupan masyarakat. Seiring westernisasi, nilai-nilai budaya lokal termasuk kearifan lokal akan semakin meredup. Padahal, budaya lokal menunjukkan adanya eksistensi suatu bangsa dan juga sebagai simbol identitas. Lalu, bagaimana agar tidak larut dalam westernisasi? Jawabannya, cintalah budaya sendiri.

Globalisasi Sebagai Liberalisasi

Liberalisasi, dalam konteks globalisasi, yaitu penghapusan hal-hal yang dapat menghambat free tradeatau perdagangan bebas internasional. Contohnya, penghapusan pajak barang impor. Dengan terhapusnya hambatan-hambatan perdagangan, maka tentunya barang-barang impor akan memenuhi pasar lokal. Dan juga, dengan harga yang lebih terjangkau masyarakat. Nah, seiring dengan masuknya barang-barang impor, maka tentunya dapat ‘mematikan’ usaha-usaha lokal. Lalu, bagaimana kita sebaiknya menghadapi ‘gempuran’ liberalisasi? Jawabannya, cintailah produk dalam negeri.

Globalisasi Sebagai Internasionalisasi

Internasionalisasi, secara mendasar, artinya semakin terlibatnya negara dalam lingkup pergaulan internasional. Misalnya, bekerja sama dengan negara lainnya dalam hal militer ataupun ekonomi. Agar lebih memudahkan berhubungan dengan negara lain, sangat dibutuhkan diplomat ulung yang fasih berbahasa asing.

Globalisasi Sebagai De-teritorialisasi

Proses de-teritorialisasi ditandai oleh semakin tidak jelasnya batas-batas negara. Contohnya, jika seseorang meng-tweet di media twitter, seseorang di negara lain dapat melihatnya. Selain itu, tidak tertutup kemungkinan warga asing dapat masuk ke suatu negara tanpa proses keimigrasian terlebih dahulu. Lalu, bagaimana agar kita siap menghadapinya? Jawabanya, dengan meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Dengan kemampuan ini, lebih memudahkan kita berkomunikasi dengan orang asing.

Globalisasi Sebagai Universalisasi

Secara konseptual, universalisasi yaitu proses penyamaan dalam segala hal. Sebagai contohnya, sebagian besar negara saat ini menilai demokrasi sebagai ideologi terbaik. Padahal, demokrasi sesungguhnya belum tentu cocok diterapkan di seluruh negara. Contoh lainnya, celana jins dianggap sebagai celana gaul oleh sebagian besar anak muda di sebagian besar dunia. Seiring universalisasi, budaya lokal akan semakin meredup sama halnya dengan akibat proses westernisasi. Lalu, bagaimana agar dapat terlepas dari universalisasi? Dengan mencintai budaya sendiri, maka kita akan dapat terlepas dari universalisasi.

Demikianlah, aspek-aspek globalisasi. Bagaimanapun, kita mesti menghadapi globalisasi. Bila kurang siap, kita akan ‘termakan’ globalisasi.

Oleh: Rahadian
(Kirim pesan ke penulis)


Related Posts :